Hunian Tanaman Pabangbon, Area Darmawisata Yang “Instagramable” Di Bogor Barat

Batas tahun baru kayaknya belum rapi, terjamin sekolah anak-anak masih libur, sebagian dinas belum masuk hari efektif. Kepada yang mau mengabaikan rekreasi tidak dengan berangkat jauh, saya percaya tidak sedikit area di dekat-dekat hunian dapat dikunjungi.

Apalagi seperti rata-rata, cuti panjang kerap dibarengi bersama kemacetan dulu lintas ke arah luar kota. Guna yang masih di Jadebotabek telah hapal, jurusan mana saja yang hiruk dan padat. Paling kerap terdengar terhambat ketika tur, adalah jalur menuju daerah puncak, setelah itu (biasanya) jalan Tol menuju Bandung dan Cikampek.

Bagaimana tidak macet, jikalau sebagain besar masyarakat Jabodetabek berangkat dengan cara sama-sama, terhadap hari dan jam yang tak terlampaui panjang selisihnya. Alamiah sih, mengingat hari liburnya terus bersamaan.

Liburan tauhun baru ini, saya pilih berkelah yang tipis-tipis saja (alias yang dekat-dekat saja) dengan  keluarga besar (kakak dan orang tua), dengan memilih pergi ke daerah Bogor.

Suatu ruang yang sejuk, dengan rekreasi yang nomor satu bagus, bersama hunian tanaman yang mampu guna selfie atau groufie. Satu factor juga paling mutlak, yaitu tak terlampaui jauh bermula kediaman di Tangerang Selatan.

Merupakan Pabangbon Leuwiliang di negeri barat Kabupaten Bogor, area tur hitz dan amat menyentak ketertarikan turis. Beberapa ketika dulu, abdi sengaja bertolak bermula hunian jam semua enam pagi. Bersama dugaan, jalanan belum terlampaui hiruk, hawa juga steril dan mood anak-anak tentu bagus.

Dua mobil pergi. berasal Tangsel, saya pilih rute non tol merupakan melintasi Parung selanjutnya membawa jurusan ke stasiun TNI AU “Atang Senjaya”. Baru menurunkan rambu dulu lintas arah Dramaga, dilanjutkan ke arah Pabangbon Leuwiliang.

Menuju area hunian tanaman Pabangbon, dibutuhkan sela tempuh kurang lebih 25 kilo meter semenjak Kota Bogor. guna yang perdana kali ke area darmawisata ini tidak butuh kelesah, google maps atau aplikasi Waze teramat sanggup diandalkan.

Sepanjang jalan, bakal diketahui lanskap hijau memanjakan penglihatan. Bahkan menonton perbukitan bersumber kejauhan, rasa “nyeeees” serentak mencela sanubari..

Sekitar setengah jam sarapan, kami melanjutkan perjalanan yang tinggal sebentar lagi. Melewati Pasar Leuwiliang, kemudian lurus sampai bertemu jalan bercabang. Nah, sampai di jalan ini jangan salah, ambil yang belok kanan (terdapat plang SMP 4 Leuwiliang) untuk menuju Pabangbon.

Kami disuguhi jurusan lumayan menantang, jalanan lebih tidak jarang mendaki dan terjal, dengan takaran bahu jalan pass kepada satu mobil. Tapi jangan sampai ciut, jalan telah diaspal kok. Sepanjang jalan memanjat ini, bahkan anak-anak teramat menikmati keseruan.

Menghirup hawa waras dan panorama yang hijau dan asri, Saya seperti kaya di negara jauh bersumber Jakarta. Batas hidup yang sama, lalu tidak jarang saya dapati selama tambah di udik halaman di negeri Jawa Timur.

Sebelum masuk lokasi, kami berbelanja ticket masuk 10 ribu untuk dewasa dan 5 ribu untuk anak-anak. Bayaran yang lumayan murah, guna sanggup menikmati bentang alam seindah ini.

Direksi lumayan kreatif, sediakan sarana hunian tanaman aneka rupa. Dibuat sebagaimana suatu jembatan, menjorok ke lisan tebing yg tinggi. Terselip tema “love”, bambu, bunga, akar dan tidak sedikit lainnya.

Semula ada ruang bersila kalem, terbuat awal tekstil yang dibentangkan tiap-tiap penghujung dikaitkan ke tanaman pinus. Sarana ini merengkuh sinaran, sebahagian gede visitor menghadirkan spot terhadap berfoto.

Buat seluruhnya media photo yang bagus ini, tiap-tiap orang dipatok anggaran 5 ribu bagi poto sepuasnya. Tapi musti setia sebentar, mengingat musti berlanjut bersambungan bersama visitor lainnya.

Buat perjalanan pulang, Kami melintasi kemacetan. Sepanjang jalan turun, mobil yang kami kendarai berpapasan dengan kendaraan yang hendak naik. Bau kanvas rem, seperti karet terbakar, tercium di sana-sini. Imbalan mobil yang mendaki, terpaksa separo kopling.

Resmi, antusias pengunjung tak terbentung. Sekalipun di kurang lebih ruang tunggal, parkir telah tak tampung. Beberapa pengunjung, ada yang memilih berjalan sekitar satu KM dari lokasi.

Menjadi pelajaran bagi kami, bahwa berangkat lebih pagi adalah keputusan yang tepat. Selain jalan belum macet, bisa menikmati lokasi wisata lebih lama dan puas.

Nah, bagi anda yang di Jabodetabek dan ingin menjajal wisata ke Pabangbon, segara jadwalkan dan atur waktu sebaik mungkin. Agar bisa melewatkan waktu, bergembira bersama keluarga. Jangan lupa, sebaiknya berangkat pagi-pagi. –salam-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *